Senin, Februari 29, 2016

Ingatan Alam

Secangkir kopi menyedukan aroma yang khas
Mengingatkan angan di dalam kenangan
Bukan, bukan kali ini tentang secangkir teh
Secangkir teh yang cemburu akan sapaan sang pagi
Alam mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas keindahannya
Langit dan hal-hal yang menyejukkan
Menyatukan setiap insan dalam keramahan hati

Ini tentang petang yang terbuai
Menghampiri angin serasa membuat daun merangkak tanpa arah
Bukankah senja segera datang menghampiri?
Entahlah nikmati saja kebersamaan yang datang dan pergi bersama kenangan
Ingatan alam dalam dekapan cakrawala ~

Dari balik jendela, 29 Feb 2016
-R-

Selasa, Februari 23, 2016

Wahai Penikmat Senja

Ku ceritakan tentang malam ini kepadamu wahai penikmat senja.

       Malam ini, selepas pulang dari melatih tari piring kepada kader-kader di salah satu ukm tempat dimana saya mengemban ilmu, saya cek beberapa akun medsos sembari memutar musik santai. Duduk di depan laptop sambil meneguk segelas susu yang tak seperti orang kebanyakan lebih menyukai secangkir kopi di malam hari sambil menikmati kerlap-kerlip bintang, dan saya lebih memilih diam tak menentu kemudian saya putuskan untuk menulis beberapa untaian kata-kata guna menuangkan goresan hati dan pikiran.

       Saya pikir hari ini menjadi kurang produktif karna dari pagi sampai siang saya kebanyakan menghabiskan waktu dengan berhibernasi (re: tidur), padahal begitu banyak hal yang seharusnya bisa saya kerjakan. Entah itu efek lelah karna akhir-akhir ini ada beberapa hal yang membuat cukup menguras fisik maupun pikiran, yah kalau mengeluh emang tak ada habisnya sebaiknya cari solusi untuk mengatasinya, bukan, bukan itu, kalau solusi sih udah dapat tapi butuh keberanian untuk melangkah dalam mengambil tindakan dan buang jauh-jauh rasa malas yang sedang menyelimuti badan diri, kini pikirkan darimana saya harus memulai kembali dan melanjutkan kembali kerjaan yang tertunda dengan semangat dan berdo'a.

       Namun malam ini cukup menyenangkan karna bulan menunjukan sinarnya dibawah gerimis membasahi, melihat para kader-kader tetap semangat untuk berlatih saya pun juga bersemangat dalam mentransfer ilmu yang saya punya, ingat dek nikmati saja prosesnya :) layaknya pagi menikmati sinar sang fajar dan malam menikmati keindahan bulan. Senang rasanya bisa berbagi ilmu dan sharing-sharing bersama mereka, o iya, hari ini salah satu dari mereka ulangtahun namanya naila, selamat ulangtahun ya, sukses dan semangat belajar tari piringnya. Sehabis latihan dan evaluasi kami langsung kembali ke kosan masing-masing, berjalan memperhatikan lingkungan sekitar yang mungkin orang-orang sudah menenangkan diri mereka dalam indahnya mimpi. Malam ini begitu damai ketika kenangan kembali teringat dalam ingatan.

       Oke skip... ternyata selagi menulis sambil mencari inspirasi proyek yang sedang saya jalani, hanyut dalam kedamaian malam mata saya langsung terasa berat dan tiba-tiba hilang dari peredaran (re: ketiduran), padahal tangan ini belum puas menuangkan ide-ide yang ada di hati dan pikiran. Yasudah saya nyatakan kalau tulisan ini masih bersambung di bagian berikutnya.

Kali ini cerita penikmat pagi yang menanti secercah harapan.

       Terbangun waktu adzan shubuh berkumandang dengan damainya. Terasa hawa dingin yang menusuk tulang, ku lawan dengan asa bersiap untuk memulai hari ini dengan semangat baru. Ada hal-hal yang perlu saya perbaiki dan yang perlu saya mulai lagi, berharap sesuai rencana dan harapan. Sekarang saya sudah bersama pagi, menikmati playlist musik yang sedang diputar sambil meneguk beberapa air putih, kemudian saya lanjutkan menulis hal yang tadi malam sempat tertunda.

       Oke cukup sudahi ketidakjelasan ini, hahaha mari berkegiatan! Hmm, sedikit sajak muncul di ingatan, yasudah daripada dibuang sayang maka saya tuangkan saja dalam tulisan kali ini. Selamat menikmati, maaf kalau sedikit ga jelas cukup pahami saja.

Butiran pasir menyatu dengan air
Mengalir dalam ruas-ruas daun yang menanti angin, bukan membenci~

Cakrawala merenung
Harapan semu bertemu dalam dimensi paralel
Iya, kamu dan kita dipersatukan kedalam beberapa titik
Membawamu terbang kepada nestapa jiwa yang rindu pelukan sang waktu~

Sepertinya dingin sedang merasuki angan
Kenangan pergi bersama senja yang sedang menunggu pagi~


Dari balik jendela, 22-23 Feb 2016
-R-

Sabtu, Februari 20, 2016

Tentang Bulan

Kelam malam sunyi hilang bertabur ombak
Langit berbisik lembut menyentuh relung jiwa
Mungkinkah bulan tak merindukan malam?
Entahlah yang ku tau malam selalu menunggu bulan
Menyapa sinarnya halus membelai resah
Melupakan sejenak lelah yang datang lalu pergi
Seakan sirna dalam halusinasi kedamaian
Dari malam yang sedang memandang bulan
Selamat malam bulan~


Dari balik jendela, 20 Feb 2016
-R-

Jumat, Februari 12, 2016

Pagi Menyapa

Awan berbisik merdu
Pelangi enggan menampakkan riasan warnanya
Hujan tertawa sembari membasahi seruas jalan kecil
Untaian kata yang sedang bergumam enggan berucap
Apakah terang akan menyatukan busur yang lari berjauhan?
Entahlah yang jelas sosok asa muncul dalam renungan imajinasi

Kau tau aku ingin mendengar kabar senja

Hai apa kabar kau disana?
Sekarang aku sedang bersama pagi menikmati silaunya sang fajar
Entah kenapa pagi ini menjadi pagi rindu yang merasuki jiwa
Saat hati resahpun kau masih saja memberi sentuhan
Hingga langitpun tersenyum dibuatnya

Rumput mendayu senandung kenangan berbisik
Ribuan kata terbuai indah dipelukan
Ketenangan penyejuk jiwa datang membawa kedamaian~



Dari balik jendela, 12 Feb 2016
-R- 

Rabu, Februari 10, 2016

Memulai Mengingat Kembali

Bismillah...

Pagi yang mendung

          Memulai, ya mungkin itu kata yang tepat untuk saya mulai nulis lagi, terlalu banyak cerita yang sudah terlewatkan selama 2 tahun lebih dari terakhir saya memposting tulisan di blog ini, mungkin dari hari ini dan seterusnya saya akan memulai menulis apa yang ada di pikiran saya.

          Terkadang banyak hal yang meresap namun tak bisa diuntai dengan kata-kata yang indah, tersimpan di dalam pikiran yang membuat lidah tak bertulang ini membisu dalam diam. Ketika akhir-akhir ini saya hanya bisa melampiaskan pikiran saya dengan menulis di note yang ada pada "gadget" saya, mungkin karna saya sedang tertarik dengan kutipan-kutipan sajak yang syahdu dan memulai hobi saya dalam membaca, karna jujur saya orang yang tidak suka membaca kecuali di internet dan pada buku bergambar yang biasa dipanggil dengan sebutan "komik".

          Yah, pagi ini mendung seperti biasanya, memang pada bulan-bulan sekarang sedang musim hujan, mungkin hujan sedang memantau hati saya karena beberapa hal yang menyangkut dengan kata "skripsi" belum dapat saya selesaikan sementara teman-teman saya sudah mulai ngebut dengan hal yang bersangkutan dengan tanggung jawab kuliah tersebut. Sedih, tapi apa dikata cuma usaha dan berdo'a yang bisa dilakukan, selanjutnya biar Allah yang menentukan. Hanya untaian kata maaf kepada kedua sejoli yang sudah membesarkan saya hingga saat ini, saya tau tersimpan raut kekecewaan yang terlihat di senyum orang tua saya, namun percayalah anak mu di rantau ini sedang berjuang dengan berbagai mimpi-mimpinya.

          Hmm, kembali lagi dalam menggoreskan tinta, ya akhir-akhir ini ada aura positif yang mengelilingi tubuh ini, mungkin itulah kenapa saya mulai termotivasi untuk melengkapi halaman yang sudah lama kosong dan mungkin sudah terdapat sarang laba-laba yang memenuhi tiap sudut ruang kosongnya. Entah kenapa, alunan musik yang akhir-akhir ini yang menyelip di telinga, motivasi dari teman-teman seperjuangan saya yang membuat saya ingin memulai dan melanjutkan pekerjaan yang sudah lama saya tunda dan saya tinggalkan.

          Sekarang, saya sedang menikmati hal-hal seru yang akan terjadi di depan mata dan merancang pondasi-pondasi masa depan. Banyak hal yang seharusnya sudah saya lakukan, mungkin sedikit abstrak namun sudah terancang di dalam memory.

          Cukup untuk pagi yang mendung ini dalam merangkai kata-kata, maaf kalau sedikit abstrak dan susah dimengerti, cukup dipahami saja, hahaha

          Dari pagi yang menunggu senja, hingga sang fajar yang menyinari awan namun tak ingin memperlihatkan keindahannya.


Dari balik jendela, 10 Feb 2016
-R-