Selasa, Februari 23, 2016

Wahai Penikmat Senja

Ku ceritakan tentang malam ini kepadamu wahai penikmat senja.

       Malam ini, selepas pulang dari melatih tari piring kepada kader-kader di salah satu ukm tempat dimana saya mengemban ilmu, saya cek beberapa akun medsos sembari memutar musik santai. Duduk di depan laptop sambil meneguk segelas susu yang tak seperti orang kebanyakan lebih menyukai secangkir kopi di malam hari sambil menikmati kerlap-kerlip bintang, dan saya lebih memilih diam tak menentu kemudian saya putuskan untuk menulis beberapa untaian kata-kata guna menuangkan goresan hati dan pikiran.

       Saya pikir hari ini menjadi kurang produktif karna dari pagi sampai siang saya kebanyakan menghabiskan waktu dengan berhibernasi (re: tidur), padahal begitu banyak hal yang seharusnya bisa saya kerjakan. Entah itu efek lelah karna akhir-akhir ini ada beberapa hal yang membuat cukup menguras fisik maupun pikiran, yah kalau mengeluh emang tak ada habisnya sebaiknya cari solusi untuk mengatasinya, bukan, bukan itu, kalau solusi sih udah dapat tapi butuh keberanian untuk melangkah dalam mengambil tindakan dan buang jauh-jauh rasa malas yang sedang menyelimuti badan diri, kini pikirkan darimana saya harus memulai kembali dan melanjutkan kembali kerjaan yang tertunda dengan semangat dan berdo'a.

       Namun malam ini cukup menyenangkan karna bulan menunjukan sinarnya dibawah gerimis membasahi, melihat para kader-kader tetap semangat untuk berlatih saya pun juga bersemangat dalam mentransfer ilmu yang saya punya, ingat dek nikmati saja prosesnya :) layaknya pagi menikmati sinar sang fajar dan malam menikmati keindahan bulan. Senang rasanya bisa berbagi ilmu dan sharing-sharing bersama mereka, o iya, hari ini salah satu dari mereka ulangtahun namanya naila, selamat ulangtahun ya, sukses dan semangat belajar tari piringnya. Sehabis latihan dan evaluasi kami langsung kembali ke kosan masing-masing, berjalan memperhatikan lingkungan sekitar yang mungkin orang-orang sudah menenangkan diri mereka dalam indahnya mimpi. Malam ini begitu damai ketika kenangan kembali teringat dalam ingatan.

       Oke skip... ternyata selagi menulis sambil mencari inspirasi proyek yang sedang saya jalani, hanyut dalam kedamaian malam mata saya langsung terasa berat dan tiba-tiba hilang dari peredaran (re: ketiduran), padahal tangan ini belum puas menuangkan ide-ide yang ada di hati dan pikiran. Yasudah saya nyatakan kalau tulisan ini masih bersambung di bagian berikutnya.

Kali ini cerita penikmat pagi yang menanti secercah harapan.

       Terbangun waktu adzan shubuh berkumandang dengan damainya. Terasa hawa dingin yang menusuk tulang, ku lawan dengan asa bersiap untuk memulai hari ini dengan semangat baru. Ada hal-hal yang perlu saya perbaiki dan yang perlu saya mulai lagi, berharap sesuai rencana dan harapan. Sekarang saya sudah bersama pagi, menikmati playlist musik yang sedang diputar sambil meneguk beberapa air putih, kemudian saya lanjutkan menulis hal yang tadi malam sempat tertunda.

       Oke cukup sudahi ketidakjelasan ini, hahaha mari berkegiatan! Hmm, sedikit sajak muncul di ingatan, yasudah daripada dibuang sayang maka saya tuangkan saja dalam tulisan kali ini. Selamat menikmati, maaf kalau sedikit ga jelas cukup pahami saja.

Butiran pasir menyatu dengan air
Mengalir dalam ruas-ruas daun yang menanti angin, bukan membenci~

Cakrawala merenung
Harapan semu bertemu dalam dimensi paralel
Iya, kamu dan kita dipersatukan kedalam beberapa titik
Membawamu terbang kepada nestapa jiwa yang rindu pelukan sang waktu~

Sepertinya dingin sedang merasuki angan
Kenangan pergi bersama senja yang sedang menunggu pagi~


Dari balik jendela, 22-23 Feb 2016
-R-

1 komentar:

  1. Gua suka ran bahasa baku lo. Persis kaya tumblr nya Banda Neira
    http://dibandaneira.tumblr.com/tentang
    Terus berkarya dalam sastra, ok! Sastraku budayaku, sastraku budayaku, sastra Unpad nomor 1!

    BalasHapus

No SARA yang penting enjoy